MOTHER and CHILD

Tuesday, July 11, 2006

MINUM OBAT TIDAK MENYIKSA LAGI.................


Apakah anda termasuk ibu yang jengkel dan kesal saat harus memberi obat penurun demam pada si kecil? Pasalnya si kecil selalu punya seribu satu macam alasan untuk menolak obat penurun demam, mulai dari rasanya yang tidak enak, pahit, sehingga saat jam minum obat harus ada adegan 'sinetron', entah menangis atau berguling-guling.
"Anak saya termasuk sulit sekali menerima obat penurun demam. Padahal saya jenis ibu yang paranoid, anak agak hangat sedikit saya bingung, dan maunya meminumkan obat penurun demam. Kalau sudah begitu saya suka kesal sendiri," ujar Novita Angie, presenter yang memiliki keluhan sama dengan sebagian besar ibu-ibu saat harus memberi obat yang rasanya pahit kepada anak.

Sebenarnya kapan saatnya kita harus memberi obat penurun demam kepada anak? Sebelum berbicara lebih jauh, lebih baik kalau kita pahami apa sebenarnya demam. Menurut Dr. H. Hindra Irawan Satari, Sp.A (K). M.Trop. Paed yang akrab dipanggil dr. Hinky, demam adalah reaksi tubuh terhadap infeksi dan kondisi sakit lainnya. Saat demam, suhu tubuh menjadi lebih tinggi dari suhu normal (36-37 derajat Celcius) bila diukur dengan termometer yang diletakkan di lidah atau anus. Kenaikan suhu tubuh berguna untuk menolong infeksi. Demam adalah gejala, bukan merupakan penyakit itu sendiri lho.
Penyebab demam bervariasi, bisa karena infeksi virus (influenza), infeksi bakteri (tifus), atau karena efek samping dari imunisasi atau obat-obatan tertentu. Menurut dr. Hinky, demam ringan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari, tanpa perlu obat. "Jika demam di bawah 38 derajat Celcius (subfebris), tidak perlu diberi obat," ujar dr. Hinky.

Kapan anak perlu diberi obat penurun demam? "Saat mencapai suhu di atas 38 derajat Celcius atau anak terlihat tidak nyaman dan gelisah," imbuhnya.

Dr. Hinky menyarankan saat tubuh anak agak demam, ibu jangan buru-buru memberi obat penurun demam. "Kenaikan suhu tubuh sebagai upaya menetralisir benda asing yang masuk ke tubuh. Jangan buru-buru diberi obat demam. Sebab bila suhu diturunkan, malah mempersulit mencari penyebabnya," lanjut dr. Hinky. Selain itu, menurunkan suhu dengan segera dapat mengganggu proses pertahanan daya tahan tubuh.

Tidak semua kasus demam dapat hilang dengan sendirinya lho, dalam beberapa kasus demam memerlukan perhatian medis. Anak kecil yang menderita demam atau sakit nyeri biasanya berhubungan dengan infeksi bakteri yang bisa berbahaya.
Kapan bayi harus dirujuk? Yaitu bayi usia kurang dari dua bulan dan suhu rektal lebih dari 39 derajat Celcius atau suhu di bawah normal, atau demam dan rewel tanpa sebab yang jelas, tidur terus, tidak merespons terhadap rangsang.
Bagaimana jika demam terjadi pada anak, kapan saatnya orang tua harus merujuknya ke dokter? Dr. Hinky menyarankan jika tingkah laku anak masih ceria dan merasa nyaman, minum cukup dan masih bermain, pertanda si anak masih baik-baik saja. Namun segera hubungi dokter apabila si anak terlihat lesu, rewel, muntah terus-menerus, sakit kepala hebat, sakit perut, nyeri lain yang membuat tidak nyaman, demam setelah ditinggalkan pada mobil yang panas, demam berlangsung lebih dari sehari pada usia di bawah 2 bulan, atau demam lebih tiga hari pada usia anak di atas 2 tahun.
Meski mencemaskan orang tua, umumnya kejang demam tak memiliki efek di kemudian hari. Saat anak kejang, umumnya kaum ibu malah panik. Sebaiknya tetap tenang, jika si kecil mengalami kejang, lakukan tindakan seperti baringkan dia, singkirkan benda tajam di sekelilingnya, kendorkan pakaian, hindari dari benturan. Pada umumnya kejang berhenti sendiri, namun jika berlangsung lebih dari 10 menit sebaiknya hubungi dokter.
"Bila memungkinkan, hitung lamanya kejang, karena kejang sering terasa lebih lama dari yang sebenarnya," ujar dr. Hinky. Saat kita panik, mana sempat melakukan hal itu bukan? Namun setidaknya, perhatikan bagian tubuh mana anak pertama kali kejang untuk memudahkan dokter mencari penyebab selain kejang.
Bagaimana pengobatan demam pada anak? Pengobatan bergantung pada penyebab demamnya. Jika penyebab demam adalah bakteri, maka diberikan antibiotik. "Namun jika penyebab demamnya virus, anak hanya perlu minum cukup dan istirahat," tandas dr. Hinky.
Tapi yang namanya ibu-ibu, begitu anak demam sedikit (apalagi kalau anak satu-satunya), rasanya tak sabar membiarkannya begitu saja tanpa memberinya obat ya. Seperti saya, kalau anak demam di atas 38 derajat Celcius (selalu saya ukur, karena tersedia termometer digital di rumah), saya akan memberinya pertolongan pertama berupa obat bebas, yaitu parasetamol, sebelum membawanya ke dokter. Masalahnya, anak saya sulit sekali menelan obat, terutama yang rasanya pahit. Jika berhasil masuk, setelah itu biasanya muntah atau dimuntahkan. Akibatnya dosis yang sesuai anjuran di kemasan tak mencukupi.
Tapi tampaknya kepusingan akan rasa alami parasetamol yang pahit teratasi setelah di pasaran muncul Biogesic Anak dengan teknologi TasteRite yang tidak pahit, rasa jeruk yang disukai anak-anak. Selenia Sandraningtyas, Product Manager Biogesic Anak menjelaskan bahwa rasa pahit pada obat dengan formula parasetamol disamarkan dengan pemberian aroma yang kuat. "Sehingga walaupun aromanya terasa, namun lidah masih merasakan pahitnya parasetamol," ujarnya. Hal itulah yang menjadi penghalang sebagian besar anak mau menerima obat yang diberikan.
Dengan teknologi TasteRite, lanjut Selenia, obat tidak akan terasa pahit karena teknologi ini membungkus partikel parasetamol sehingga tak terasa pahit. Sistem polimer dari TasteRite-yang menutup rasa pahit-dengan cepat akan melepaskan parasetamol saat sampai di lambung, sehingga obat akan dengan cepat larut dan mudah diserap tubuh.
Penelitian yang dilakukan PREMISE, agen peneliti pasar independen di Filipina menunjukkan bahwa dari responden yang mengikuti percobaan, 95% anak menyukai rasa Biogersic dengan TasteRite, 93% orang tua akan menggunakan obat tersebut untuk anak mereka. Penelitian juga membuktikan efektivitas Biogesic dengan teknologi TasteRite, dimana 99% anak mengalami penurunan suhu demam dalam waktu 15-45 menit setelah minum obat tersebut dengan dosis tepat. Ingat, dosis yang tepat akan menjamin efektivitas pengobatan lho, dan hal ini lebih mudah dicoba dengan pemberian obat dalam bentuk sirup/cair.
Filosofi mencegah lebih baik dari mengobati masih berlaku lho. Makanya hindarilah paparan terhadap penyakit infeksi, dengan langkah efektif:

Cuci tangan menggunakan sabun meliputi bagian depan dan belakang tangan, gunakan air mengalir. Bagaimana bila tak ada air dan sabun? Gunakan tisu basah yang beredar luas di pasaran.Ajarkan anak untuk tak membiasakan menyentuh hidung, mata dan mulut dengan tangan kotor, sebab ketiganya merupakan jalur utama penularan virus


0 Comments:

Post a Comment

<< Home